Senin, 21 Desember 2009

PENANGGULANGAN PENYAKIT TBC PARU

Fenomena Gunung Es, itulah istilah yang sering diungkapkan untuk menggambarkan bahwa jumlah suatu penyakit yang ditemukan baru sebagian kecil, sedangkan yang masih tersembunyi diprediksi masih banyak. Fenomena ini berlaku juga untuk penyakit TBC Paru. Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Organisation/WHO) diperkirakan ada sepertiga ( 2 miliar ) penduduk dunia terinfeksi kuman TBC, yaitu Mycobacterium tuberkulosis, dengan angka tertinggi di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Diperkirakan di Indonesia, terdapat 107 kasus TBC diantara 100.000 penduduk. Pekerjaan besar yang cukup rumit adalah bagiamana menemukan kasus-kasus tersebut. Padahal, dalam 1 tahun, 1 penderita positif TBC (BTA-positif) dimungkinkan menularkan kepada 10 orang disekitarnya. Dapat dibayangkan, betapa besarnya risiko penularan penyakit TBC yang memang sangat menular.
Pelbagai upaya telah dilakukan di Puskesmas Petanahan dalam upaya penemuan penderita ( case finding). Penyuluhan, kunjungan rumah, contact tracing merupakan kegiatan yang selalu dilaksanakan, namun penderita positif TBC Paru belum banyak yang dapat tercover. Padahal seluruh pelayanan terhadap penderita tersangka dan positif TBC Paru gratis, mulai dari pemeriksaan laboratorium sampai selesai pengobatan.
Permasalahan yang kemungkinan menghambat antara lain;
1.Belum terciptanya kesadaran penderita tersangka TBC Paru untuk memeriksakan diri dan berobat ke Puskesmas.
2. Adanya stigma di masyarakat; TBC merupakan penyakit yang memalukan, yang berakibat penderita malu datang ke Puskesmas.
3. Penderita tidak curiga/ tidak menganggap sakit TBC, sehingga diobati sendiri, berobat ke tempat lain, yang terkadang menyembuhkan batuk tapi tidak mematikan kuman TBC.

Gejala-gejala klinis seseorang terkena TBC Paru antara lain :
1. Batuk tidak kunjung sembuh, 3 minggu lebih
2. Berat badan menurun terus
3. Sering keluar keringat dingin malam hari ( tanpa aktifitas lho)
4. Badan meriang, demam
Apabila ada orang dengan gejala demikian, akan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium Puskesmas sehingga diperoleh kepastian apakah positif menderita TBC Paru. Spesimen yang diperiksa di Laboratorium adalah dahak, yang terdiri dari 3 pot ( tempat ) dahak dengan wakthttp://www.blogger.com/img/blank.gifu yang berbeda, yaitu dahak sewaktu berkunjung ke Puskesmas, dahak pagi hari, dan dahak waktu kembali berkunjung ke Puskesmas. Hal ini juga kadang menghambat, karena penderita tidak kembali ke Puskesmas.
Apabila dalam dahaknya ditemukan kuman Mycobakterium Tuberkulosis (BTA+), maka ia akan dinyatakan positif dan langsung dilakukan pengobatan jangka pendek selama 6 bulan secara cuma-cuma.
Apabila dalam pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan kuman dimaksud, maka penderita akan dirujuk untuk rontgen paru di Rumah Sakit yang melayani rontgen, sampai dia dinyatakan negatif atau positif.

Faktor risiko penyakit TBC Paru :
Faktor yang berisiko terkena penyakit TBC Paru adalah :
1. Tinggal di rumah yang kurang sehat ; tidak berventilasi, lantai lembab, sinar matahari tidak masuk ke rumah.
2. Kepadatan hunian rumah tinggi
3. Tinggal 1 ruangan dengan penderita TBC Paru,
4. Kebiasaan merokok
5. kebiasaan begadang

Kata kunci sukses bebas TBC Paru
1. Cepat periksa ke Puskesmas, apabila menderita gejala klinis TBC
2. Berobat tuntas, karena bagi putus berobat akan menimbulkan resistensi kuman ( kuman kebal) sehingga akan sulit diobati.
3. Sehatkan kondisi rumah, kurangi begadang, tinggalkan rokok.
4. Singkirkan rasa malu, karena malu dan gengsi bukan salah satu obat penyakit apapun.

Senin, 07 Desember 2009

PENANGANAN FLU BURUNG DI KECAMATAN PETANAHAN

Dari 21 desa yang ada di wilayah Kecamatan Petanahan terdapat 7 (tujuh) desa yang telah ditemukan kasus positif terinfeksi H5N1 pada unggas. Walaupun kasus flu pada manusia belum pernah ditemukan, namun harus diwaspadai, karena sumber penyakitnya, yaitu kejadian H1N1 pada unggas telah banyak ditemukan.
Kegiatan antisipatif yang telah dilakukan, dalam rangka pencegahan penularan AI antara lain :
1. Penyelidikan Epidemiologi pada setiap kejadian AI pada unggas, dengan mencari adakan kejadian penularan pada manusia bersama UPTD Peperla Kec. Petanahan yang melakukan Rapid Test.
2. Sosialisasi melalui berbagai kegiatan :
a. Pertemuan flu burung tingkat kecamatan
b. Mobilisasi Sosial penanganan Flu Burung
c. Penerapan PLA Flu Burung pada 7 desa yang terdapat kasus flu pada unggas.
d. Gerakan Kebersihan lingkungan
e. Pencanangan gerakan cuci tangan oleh Bupati Kebumen di SD Grogolbeningsari.
f. Sosialisasi penanganan flu burung melalui berbagai kegiatan tingkat desa ( yasinan, selapanan, pengajian dll).
3. Pertemuan penanganan pelaksanaan pengendalian flu burung bersama lintas program dan lintas sektor terkait secara berkala.
Permasalahan yang menghambat penanganan flu burung di Kecamatan Petanahan antara lain adalah :
1. Belum adanya kesamaan pemahaman masyarakat tentang penanganan flu burung.
2. Masih banyaknya unggas yang tidak dikandangkan.
3. Masih banyaknya kandang unggas yang menyatu dengan rumah.
Pada tanggal 7-8 Desember 2009, kembali tim penanganan flu burung kecamatan petanahan di undang untuk mengkaji dan mempelajari kembali penanganan yang selama ini dilakukan. Rencananya tanggal 14-15 Desember 2009, dikecamatan Petanahan akan segera dilaksanakan sosialisasi KIE( Komunikasi, Informasi dan Edukasi ) bagi seluruh stake holder terkait. Kegiatan ini merupakan kerjasama Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dengan Kementerian Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia.
Kunci sukses pengendalian flu burung, adalah keterpaduan gerakan segenap unsur yang ada dalam masyarakat.